Boyband


Si Mamat pulang sekolah. Mamat dan empat orang temannya, Jupri,  Sakim, Misan, dan Samin, mereka teman sepermainan sewaktu kecil. Rumah Jupri berada di depan rumah Mamat, hanya dipisahkan jalan. Rumah Sakim di samping rumah si Mamat, dan rumah Misan sama rumah Samin, dipisahkan rumah si Jupri. Mereka pulang pergi bersama ke sekolah, maklum karena rumah mereka berdekatan, apalagi sekarang satu sekolahan.

Mamat :“Pri, nanti lu main ke rumah gua ya?”

Jupri      :”Yaelah Mat, belum juga sampai saya ke rumah udah di suruh main. Gimana si Mat!”

Misan    :”Yaelah Pri, entar kalo udah sampai ke rumah, makan, salin, terus main ke rumahnya Mamat.”

Mamat :”Iya, lu juga San, Min, sama Sakim.”

Samin    :”Iya, entar saya ke sana!”

Mamat :”Kim, lu diem aja. Gimana, bisa engga?”

Sakim    :”Entar dulu, emang pada mau ngapain di sana?”

Mamat :”Gimana si Kim, namanya juga main, ngapain aja bisa. Perang-perangan ke, maen mobil-mobilan ke, nyanyi-nyanyi ke!”

Sakim    :”Bukan begitu, Mat. Saya harus tau mau main apaan dulu nantinya.”

Samin    :”Kaya anak baru aja Min, kudu dijelasin dulu.”

Sakim    :”Bukan kudu dijelasin dulu, Min. Cuma mau tau doang!”

Misan    :”Yang penting mau dateng engga, Kim?”

Mamat :”Udah-udah, daripada ribet gini aja, kita nyanyi-nyanyi aja. Oke!”

Jupri, Misan, dan Samin setuju untuk main di rumah Mamat sepulangya di rumah nanti. Cuma Sakim terlihat cemas dan khawatir kalau mau nyanyi-nyanyi di rumah Mamat. Anak sesusia mereka tentu belum ada pikiran yang berat seperti orang dewasa, tetapi tidak untuk Sakim.

Sakim    :”Saya engga bisa Mat, kalau Cuma nyanyi aja.”

Mamat :”Loh, kenapa emangnya, Kim?”

Sakim    :”Kata bapak saya, kalo kita udah berkumpul, lima orang pula, pasti engga bakalan dizinin apalagi nyanyi-nyanyi.”

Mamat :”Ko bisa engga boleh nyanyi?”

Sakim    :”Iya, Mat. Masalahnya bapak saya ga mau kalo kita nanti ngebentuk boyband.”

Para sahabat itu pulang ke rumahnya masing-masing. Dunia anak memang dunia yang sangat indah dan ceria.

Bandung, 2012

Biografi Penulis (Sebuah Identitas)

Oleh Dade Supriatin

“Apalah arti sebuah nama”, sebuah istilah yang kita pahami maksudnya. Tetapi, kebanyakan orang salah mendudukan istilah tesebut. Nama bagi sebagian orang merupakan suatu identitas tersendiri yang mendeskripsikan karakteristik maupun tingkah laku terhadap orang lain di lingkungannya. Sebagian besar mempercayai kekuatan sebuah nama, lihat saja agama Islam yang menganjurkan untuk menggunakan Asmaul Husna. Istilah tersebut memang benar jika pemaknaan nama sebagai sesuatu yang “tak berarti” ditempatkan untuk menghimbau seseorang atau komunitas agar tidak terjebak pada kesombongan. Dari pemikiran tersebut kemudian penulis mencoba menempatkan sebuah nama sebagai identitas.

Pada umumnya, perkenalan di mulai dengan menanyakan nama. Berangkat dari pola keumuman, nama Dade Supriatin sebagai penulis diperkenalkan kepada khalayak ramai. Interaksi yang terjadi menimbulkan keingintahuan dan pertanyaan lain tentang siapa sebenarnya Dade Supriatin ini. Apakah laki-laki atau perempuan, kemudian dari mana tempat tinggalnya dan apa yang diperbuat sekarang. Keingintahuan yang merupakan proses berpikir, mengenali, serta menilai seseorang. Sebelum lebih banyak lagi pertanyaan, penulis mencoba mendeskripsikan pola umum yang digunakan untuk menampilkan identitas. Sepertinya, proses mengenali (baca: identifikasi) terhadap seseorang menjadi kebutuhan bagi seseorang terlepas pandangan negatif terhadap latar belakang yang menyertainya.

Jika dirunut dari awal kelahiran sampai sekarang, tentunya tulisan ini belumlah cukup untuk perbincangan kali ini. Maka dengan demikian, penulis membatasi proses identifikasi pada batasan di kampus. Maksudnya, ruang lingkupnya selama penulis menjadi mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) terutama di organisasi kemahasiswaan. Berbicara organisasi kemahasiswaan (ormawa) di UPI pada umumnya sama dengan ormawa pada univesrsitas lain, yaitu organisasi yang paling dasar adalah himpunan mahasiswa jurusan (HMJ), organisasi tingkat fakultas, unit kegiatan mahasiswa (UKM), dan organisasi tingkat universitas. Dengan latar belakang penulis sebagai mahasiswa jurusan pendidikan bahasa Indonesia (Jurdiksatrasia). Sebagai mahasiswa baru pada waktu itu, pandangan terhadap ormawa belum terlalu menganggap suatu kebutuhan. Karena pada masa tersebut terjadi transisi psikologi. Artinya, perkembangan kejiwaan masa sekolah menuju masa perkuliahan (mahasiswa). Pada masa ini, psikologi pada masa sekolah masih mendominasi pola pikir maupun tindakan yang di aplikasikan dalam kehidupan di masyarakat ketimbang pola pikir mahasiswa yang masih dianggap baru. Hal inilah yang kemudian dipahami dan berkembang dalam pikiran dan menimbulkan asumsi tersendiri. Pandangan inilah yang kemudian perlu diluruskan. Jika akademik sebagai proses penyerapan materi profesi maka organisasi merupakan penyerapan materi akademik dan materi lain yang tidak dipelajari dalam perkuliahan.

Kemudian beranjak ke organisasi yang setingkat lebih tinggi, yaitu organisasi tingkat fakultas. Berbicara organisasi tingkat fakultas, kemudian menjadi asing jika dikontekskan hari ini. Permasalahannya, organisasai tingkat fakultas saat ini memang sudah dibekukan. Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (BEM FPBS) dibekukan sejak tahun 2007. Alasan mengapa BEM FPBS dan organisasi tingkat fakultas lain dibekukan, pertama, karena persoalan legitimasi di organisasi tingkat universitas yang meniadakan adanya organisasi tingkat ini pasca perubahannya menjadi Republuk Mahasiswa (REMA). Kedua, persoalan kurikulum dengan memangkas akademik dari seratus enam puluh menjadi seratus empat puluh empat SKS (Sistem Kontrak Smester). Ketiga, persoalan hutang yang ditanggung pasca kegiatan Art in Campus. Alasan tersebutlah yang menjadi pertimbangan untuk membekukan organisasi tingkat ini sampai pada batas waktu yang tidak ditentukan dan menjadi kontroversi sampai saat ini. Dampak yang timbul akibat pembekuan BEM FPBS ini di mahasiswa tentunya menghilangkan jenjang karir berorganisasi dan tidak adanya wadah untuk memfasilitasi mahasiswa dalam fakultas. Dari jajaran birokrasi kampus, sosialisasi kebijkan (bersifat menyeluruh maupun kebijakan yang mencakup fakultas masing-masing) dari rektorat tidak tersampaikan karena dan kurang dikritisi karena ketidaktahuan tersebut.
Beranjak ke UKM dan organisasi tingkat universitas. UKM terdaftar sebagai organisasi yang paling banyak di UPI karena melebihi jumlah organisasi tingkat jurusan. UKM ini terdiri atas UKM penalaran, kajian, minat dan bakat, keagamaan, dan minat khusus. Inilah yang membuat jumlah UKM melebihi jumlah HMJ. Sebelum pergantian nama, organisasi ini adalah BEM UPI. Organisasi tingkat universitas merupakan organisasi tertinggi intrakampus. Pasalnya, organisasi ini membawahi organisasi lain. Organisasi tingkat kampus saat ini atau lebih dikenal dengan REMA kurang dirasakan fungsi dan kedudukannya. Terlepas dari kontroversi yang berkembang di kalangan mahasiswa maupun birokrasi kampus. Dari pergantian nama, siapa sangka menimbulkan wacana antara yang sepakat dan tidak. Bahkan menajdi perdebataan sampai saat ini.

Hubungan antara penulis dan struktur organisasi intrakampus adalah bahwa penulis pernah memasuki fase dalam struktur kepengurusan HMJ dan UKM. Jadi secara tidak langsung masuk dalam dinamika kampus meskipun belum sempat berkarir dalam organisasi tingkat fakultas dan universitas. Dari sanalah penulis memandang bahwa pentingnya organisasi sebagai suatu kebutuhan dalam dialektika di masyarakat. Karena setalah ini, sudah menjadi keharusan untuk penulis maupun mahasiswa lain terjun di dunia masyarakat yang lebih keras dinamikanya dan rumit secara struktur biroksasi. Dari sinilah harapan timbul, mengenali penulis adalah mengenal organisasi intrakampus, mengenali organisasi intrakampus adalah mengenali kondisi masyarakat. Bagaimana dengan anda?

Detik

Empat orang yang tidak menyatu pandang. Sibuk dalam kegalauan masing-masing. Tak banyak yang mampu merangkum keadaan sebab masing-masing pikiran sibuk dan kerut. Di ruang ini, tubuh berkerumun ketika malam liar dan angin memanjat. Belum sempat mengenali dan hilang pada pintu yang tertutup.

Sebentar lagi ada banyak keringat ketika matahari terperangkap, daun berjatuhan dan hujan basah di tanah-tanah yang diinjak. Hari yang tak biasa pada musim yang akan berubah. Tawa segar kanak-kanak lalu berbicara, sukar dicermati namun dipahami. Begitulah realita, kadang kita merindukan muda sehingga tidak ingin lekas menua. Bukan tidak bisa mengelak, hanya saja keadaan ini nyata adanya. Perlu dihadapi bukan dihindari. Kalaupun menghindar, kita tetap saja digerogoti waktu, dicerca almanak yang bergelimpangan sebagai perhitungan yang usai.

Kalau kalian anggap ini adalah cerita, silahkan saja. Tidak ada larangan dan hukuman. Tetapi satu hal yang perlu diperhatikan, tolong jangan membuat luka di antara kita, itu lebih sakit dari memanggul matahari atau melumpuri bulan. Aku akan hilang, jika kalian mau ikut mari, segeralah, tetapi jangan berlama, barangkali ada yang membutuhkan tanpa kita tahu siapa dan kapan. Kalau kita tahu, lantas mau apa. Mau tahu atau mau mau. Jangan campuri urusan yang berlainan, mungkin ada racun di salah satunya. Aku mati. Apa kalaian mau ikut mati?

Beranda Kawan: Bojes Ide

Modifikasi yang Terhenti

Sejak tahun dirakit hingga sekarang, perbincangan mengenai dunia per-vespa-an tidak ada habis-habisnya. Itu dialami oleh kawan saya Heri–atau lebih akrab dipanggil Bojes–sebagai scooteris higienis dan progresif yang berniat mengubah scooternya menjadi otoped. Ide-idenya selalu berhamburan tetapi terkadang ide tersebut kurang didukung oleh pendanaan yang memungkinkan. Terkatung-katung dan terhenti samapai akhirnya berjalan kembali dengan tersendat-sendat. Meskipun demikian, brader Bojes tidak patah arah dan semangat. Keinginannya kian berkobar sehingga apa yang diinginkan sesuai apa yang diharapkan. So, beginilah jadinya…

Sebuah scooter yang simpel setelah lama terbengkalai dan hampir menjadi rongsokan.
Itu cerita dari Brader Bojes on Vespoets. Semoga dapat berbagi info, ide, maupun cerita.

Nuhun Brader!

Vespa: Tips and Trik #1

Tips and Trik Berkendara (Problem Solving For Scooteris in Touring)

TROMOL JEBOL

Saat berkendara jarak jauh, tiba-tiba Anda mengalami kejadian yang tidak pernah dialami atau tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Ketika brader sedang nge-gas tetapi ternyata tidak maju-maju, apa yang brader khawatirkan?

Ya kejadian tersebut saya alami dengan kawan-kawan saya ketika sepulangnya dari Garut–tepatnya sesudah Pamegatan–menuju Bandung. Waktu mulai gelap, dan lampu-lampu menyala dengan sederhana bahkan lebih hemat dari apa yang dibayangkan. Kabut menelusup dari tangkai-tangkai teh dan tebing perlahan tertutup. Gelap. Saya dan kawan-kawan memutuskan untuk berisitirahat mengecek persoalan yang sebenarnya terjadi. Di sebuah warung di sisi jalan, memesan kopi dan cemilan–setidaknya dapat menghibur suasana yang risau. Mesin di cek ternyata tidak terjadi apa-apa, dan ketika dicek di bagian roda/ban, di sana masalah ditemukan. Gerigi yang terdapat pada tromol (tempat melekatnya velg) habis/jebol. Apa boleh buat, perjalanan harus ditunda sejenak dan saya bersama kawan saya berangkat mencari bengkel terdekat (kurang lebih 20 km) dengan jalan terjal-berbukit, gelap, dan kerikil. Satu jam lebih sudah dan tidak mendapat hasil apa-apa.

Ditinggalkan sepertinya tidak mungkin, sedikit frustasi dan kehilangan akal. Untungnya, setelah bercerita dengan brader yang ada di bengkel sedikit ada masukan bahwa ganjal saja pakai paku. Dibutuhkan minimal lima paku untuk jalan yang terjal dan menanjak. Maka tanpa pikir panjang saya dan kawan-kawan mencoba memasukan paku reng (ukuran 10 cm) ke dalam tromol. Hasilnya, perjalanan sampai pada Nagreg. Itu kisah saya dan kawan-kawan di Vespoets. Semoga berguna dan bermanfaat.

Pesan untuk brader, selalu cek kondisi apalagi hendak berjalan jauh. Apabila darurat hubungi teman terdekat, bengkel terdekat, atau antisipasi dengan membaca referensi atau sharing informasi melalui situs jejaring sosial atau blog. Haturnuhun.

Salam Brader!

Vespoets

Vespoets, komunitas hobi yang pasti. Berawal dari kedekatan menggunakan sepeda motor buatan Italia (baca: vespa) dan kecintaan akan dunia sastra, maka munculah komunitas ini. Vespa, sastra dan asmara adalah sebuah perjalanan hidup yang mempunyai nilai estetika tinggi.

Terbentuk tanpa konvensi yang terikat tetapi saling memahami, Vespoets menjadi terobosan baru dalam dunia per-scooter-an. Awalnya, nama komunitas ini bernama ASASIN (Arena Studi Apresiasi Scooter Internasional) sebagai corong untuk untuk menyebar wabah kesusastraan yang positif. Seiring perkembangannya, ASASIN berubah nama menjadi vespoets. Hal ini direspons positif dengan pembuatan blog vespoets (www.v3spoets.co.cc) berupa puisi, peristiwa, dan aneka ragam perkembangan yang berkaitan dengan vespa dan puisi.

Sejarah pendirian dan penamaan.

Risal Samba, YSU, Ncus sebagai uliker dan penamaan. Nyonk sebagai pembimbing pervespaan, saya (Dade/red) sebagai publikasi, Gin, Acil, dan Bojes sebagai anggota aktif serta seluruh partisipan yang ikut terlibat dalam berkembangnya gruop ini menjadi sesuatu yang berguna. Tentu tanpa respons dan partisapasi dari kawan-kawan group ini tidak akan dikenal.

Beberapa rangkaian kegiatan telah terlaksana baik secara terprogram maupun improval. Yang paling pertama adalah ketika melakukan touring ke Tasikmalaya untuk mengikuti Lomba Baca Puisi Se-Jawa Barat yang diadakan oleh SST (Sanggar Sastra Tasik) pada tahun 2009 silam. Setelah itu beberapa kegiatan yang dilakukan berupa turing dan perlombaan yang insidental kerap dilakukan. Kegiatan terakhir adalah “Malam Pemoeda” yang dilaksanakan sebagai peringatan momentum sumpah pemuda dan sebagai penetapan hari jadi Vespoets.

Terima kasih kepada kawan-kawan Vespoeters yang setia dalam mengikuti perjalanan maupun memeriahkan acara yang dilaksanakan. semoga kami dan penerus Vespoets ke depan mampu membawa sastra dalam setiap peristirahatan dalam menempuh perjalanan.
Salam Sastra, Salam Budaya, Salam Keluarga!

Nuhun Brader.

DPD RI yang Memassa

Ketika saya menjabat sebagai anggota DPD RI, tentunya harus mengikuti dan menjalankan perintah yang terangkum menjadi program berdasarkan rapat program kerja. Program kerja yang disusun harus mengutamakan kepentingan rakyat. Dalam hal pendidikan, sudah seharusnya peningkatan fasilitas dan kualitas pendidikan dioptimalkan khususnya di daerah-daerah yang belum terperhatikan. Untuk meningkatkan fasilitas misalnya, DPD bersama masyarakat membangun sarana dan prasarana yang menunjang pendidikan. I-school atau program internet untuk sekolah diterapakan di sekolah-sekolah daerah dengan dilengkapi lab komputer agar murid bisa mengakses informasi yang sedang berkembang dengan arahan dan pengawasan sekolah dan masyarakat. Selain internet dan komputer, fasilitas lain seperti perpustakaan perlu dikembangkan. Dengan mengembangkan perpustakaan sekolah, diharapkan ke depannya perpustakaan bisa menjadi rumah baca bagi masyarakat sebagai salah satu upaya memberantas buta huruf. Selain itu, buku-buku yang tersedia bukan hanya buku pelajaran yang dipelajari murid ketika sekolah tetapi juga buku pengetahuan atau buku keterampilan lain sesuai dengan keadaan dan kebutuhan masyarakat.

Setelah fasilitas tentu kualitas pendidikan harus terpenuhi. Peningkatan kualitas pendidikan dilakukan dengan cara pemanfaatan bahan ajar sesuai dengan sumber daya alam yang terdapat di daerah melalui media pembelajaran yang mengena. Selain itu, penyusunan rencana pembelajaran dikaitkan dengan tema lingkungan, seni budaya, dan kearifan lokal masyarakat daerah agar murid menyadari dan paham pentingnya menjaga lingkungan, seni budaya, dan kearifan lokal di daerahnya. Masing-masing sekolah baik yang di daerah maupun diperkotaan, akan dipantau oleh dinas pendidikan untuk melakukan evaluasi tiap bulannya, dan dari dinas melaporkan kondisi yang terjadi agar kendala dan upaya pemecahan persoalan terkait kualitas pendidikan bisa dimaksimalkan dan diselesaukan sesuai dengan kebutuhan sekolah dan masyrakat. Selama ini, sekolah belum menyediakan kebutuhan di daerah masing-masing. Hal ini yang kemudian menjadikan saya sebagai anggota DPD RI prihatin terhabat problem tersebut yang kini tidak teratasi.

Setelah fasilitas dan kualitas terpenuhi, saya dan anggota dewan lain mencanangkan program beasiswa untuk siswa yang berprestasi untuk melanjutkan ke sekolah atau jenjang yang lebih tinggi. Prestasi yang diraih tidak hanya pada pemerolehan nilai yang tinggi, tetapi prestasi dalam bidang seni, olah raga, kemanusian, atau prestasi lain berupa penghargaan baik dari instansi pemerintah maupun lembaga lain. Dengan adanya beasiswa ini, putra daerah mampu meningkatkan dan mengembangkan serta memperkanalkan kebudayaan daerahnya. Setelah masa studi murid atau siswa selesai, diarahkan agar murid tersebut kembali ke daerah masing-masing untuk membangun daerahnya.

Kunjungan

Kunjungan yang dilakukan bukan ke luar kota ataupun ke luar negeri. Kunjungan yang dilakukan adalah mendatangi daerah-daerah yang tertinggal/belum maju agar anggota dewan yang lain tidak mementingkan kepentingan pribadi tetapi mementingkan kepentingan umum. Dengan kunjungan ini, diharapkan agar anggota-anggota dewan dapat mencerminkan sikap sederhana dengan bercita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan hura-hura dengan memangkas hak-hak masyarakat yang harusnya terpenuhi. Setiap kunjungan, anggota-anggota dewan wajib mencatat keinginan dan kebutuhan masyarakat di daerah yang dikunjungi. Kemudian hasil tersebut dianalisis bersama guna menjawab keinginan masyarakat lalu diturunkan melalui program insidental.

Itulah yang akan saya lakukan ketika menjadi anggota DPD RI. Berpondasi pendidikan dan meningkatkan kepercayaan masyarakat, maka program yang disusun dan dijalankan sesuai dengan kebutuhan masyarakat serta bersih dari tindak korupsi, karena masyarakat dan dewan bersama-sama menjalankan serta mengawasi program terebut.

Satu Hari yang Hilang

Baru saja aku terbangun, setelah kurang dari 30 jam tertidur. Ini bukan persoalan malas atau bermalas-malasan, tetapi ada yang diderita. Demam. Waktu jatuh pada pukul 05.00 pagi, sisa suara ayam yang tersisa samar merayap. Lebih pelan dari biasanya. Di sampingku, ada yang masih tergeletak, sepertinya tidak melebihi waktu tidurku hari ini. Satu hari yang terlewat tanpa menghasilkan cerita apa-apa, hanya mimipi dan mimpi, itupun mimpi buruk.

Alangkah uniknya tempat ini, ketika sakit ia seperti merawat, sedih pun tidak terlalu pahit terasa, kekecewaan dan rasa frustasi datang secara singkat lalu hilang lagi. Tempat yang istimewa di banding istana (Sekber-sekretariat bersama). Dibalik semua itu, ada yang memandang berbeda. Tetapi, itulah keindahan, perbedaan adalah sebuah varian, tinggal bagaimana perbedaan itu menjadi sebuah satu kesatuan bukan sebagai titik perpecahan.

Satu ruang utama dengan empat ruangan yang tersisa: ruang pusat media, ruang karantina, ruang dapur, dan ruang kamar mandi. Tempat ini menjadi persinggahan terakhir bagi kami karena kami hanya sampah atau barang kadaluarsa untuk kaum-kaum muda. Mungkin benar asumsi mereka, meskipun demikian kami telah membuat sejarah pada masanya. Silahkan bergiat dan berpraktik menurut pikiran masing-masing, asalkan tidak melawan kodrat. Yang bergelut sebagai sastrawan silahkan dalami wacana kesusastraannya, bagi demonstran lakukan terus kajian-kajian lalu tindakan yang memihak kaum tertindas, bagi orgenizer terus praktikan dan kembangkan ilmu-ilmu tentang keroganisasiannya untuk keberlangsungan serta eksistensi organisasi.  Ah, barangkali aku masih bermimpi dan belum sepenuhnya terbangun.

Bagi kalian yang mendengar, tolong bangunkan aku agar tidak berlarut dalam mimpi ini. Sekujur badan seperti tak bergerak, angin lebih dingin dari biasanya dan tubuh menguap pada titik yang panas. Tolong bangunkan, ada dering telepon yang harus kuangkat, ada pakaian yang sudah kering dijemur, ada tugas akademik yang perlu diselesaikan, ada asmara yang tertahan dan berjarak yang harus kupastikan. Apa aku tinggal sendiri di tempat ini, kemana orang-orang yang semalam tertawa, teriak-teriak, memaki, dan bergunjing. Jangan tinggalkan aku sendiri dalam mimpi yang teramat panjang, pada lorong-lorong waktu yang lurus tanpa ujung pangkal, menembus kenangan yang hilang dalam jejak perkataan kita. Di mana aku sekarang?

  • Alih Bahasa

  • angka berbaris

    Juni 2012
    S S R K J S M
    « Mei    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    252627282930  
  • Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.
  • Blog Stats

    • 320 hits
  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 2.269 pengikut lainnya.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 2.269 pengikut lainnya.